Foto waktu adek gw sunatan… tetangga2 semua berpartisipasi hadir, sumbangnnya aja sampek bisa lebih dari modal….. masih nganggep perumahan ngak sosialis?????

Real Estate, Kompleks Perumahan, Perumnas, Rusun, Appartment, Kos-kosan dan sejenisnya…. Apa yang terbesit dalam pikiran loe semua ketika terdengar kata2 tersebut sebelumnya tadi? Kemewahan, privasi, individualism, ekslusive, sombong, mahal, ngak kenal tetangga, acuh tak acuh, loe loe gw gw!!!, masa bodoh, ngak gotong royong, ngak ada pengajian bareng, silaturahmi yang minimalis, modernism, dan kata2 berkonotasi sinis negative yang mungkin terbayang…. But!!!! Remember!!! Ada pepatah kita bilang “ngak mungkin ada asap kalau ngak ada api” hokum sebab akibat lah singkatnya. Orang boleh2 saja perpendapat mereka yang tinggal di real estate/perumahan orangnya ngak sosialis atau silaturahmi minimalis, tapi ada kasus seperti ini:

Ini tentang kisah klasik pendatang di suatu desa, khususnya di daerah Yogyakarta dan sekiitarnya. Pengalaman gw sendiri, keluarga gw rata2 adalah pendatang di daerah ada yang di jogja, ada yang di ponorogo, ada juga yang di bantul tapi masih di jawa lah. Gw sendiri dulunya tinggal di kampong dalam kota sebut saja Warungboto Umbulharjo Jogjakarta, di daerah deket UAD 3, dan sekarang tinggal di perumahan deket UAD IV. Gw dengar kasus nuih dari om, tante, nyokab, bokap gw yang sering ngobrol ama gw. Ngak akan dengan detail gw ceritain tapi mudah2han bisa member gambaran untuk pembaca semuanya. Seperti ini:

Pendatang/orang asing/orang baru/bukan orang asli yang menetap di suatu desa tertentu mungkin bisa ditemukan dimana2. Tapi masalahnya menjadi, apakah mereka bisa bersatu dengan lingkungan yang notabene nya bukan desa kelahiran mereka? Nyokap gw pernah bilang gini: “Seorang pendatang atau keluarga pendatang tidak akan menerima sambutan hangat dari lingkungannya yang baru, sampai menikah atau menikahkan anaknya dengan masyarakat asli desa dimana mereka tinggal” Garis besarnya, ngak ada tempat untuk pendatang di desa. Tapi masalahnya apakan semua pendatang harus menikah atau menikahkan anaknya dengan penduduk asli? Enggak kan???? Hahahahha…. Stupid question??? Tapi bener aja, contohnya neh keluarga tante gw yang pendatang di desa deket perumahan gw, merka agak ngak nyaman gitu lah tinggal di perumahan secara ngak tau kenapa? Mereka bilang… Kalo ada sumbangan2 apaaa gitu, pasti aja pendatang yang diperas duluan…. Mbangun masjid lah, buat selokan lah, kas ini lah, kas itu lah, sumbangan ini lah, sumbangan itu lah…. Bahkan lebih dari dept kolektor yang ngak pinya hati….. bellom lagi kalo ada yang ngutang2 alias minjem2 duit ke mereka…. Ada kumpul2 desa yang seminggu bisa lebih dari 2 kali, tapi setelah mereka berusaha memenuhi semua tuntutan lingkungan itu, apakah kehangatan yang mereka dapatkan? Apakah mereka diterima dengan baik di desa itu? Ternyata tidak, masyarakat desa di regional Jogjakarta emang kejam, sadis, ngak berperikemanusiaan, dan lebih kejam daripada siluman kelajengking!!!! Tetep aja kalo om gw, sakit opname di Rumah Sakit ngak cuman beberapa batang hidung tetangga2 desa yang menjenguk dan cuman hitungan tangan kanan yang membantu secara financial, pokoknya ngak sebanding dengan apa yang mereka keluarkan sebelumnya….. Belum juga hal2 yang sensitive lainnya.

Itu tadi baru cerita keluarga om gw, ini ada cerita dari nyokab gw. “Ada teman nyokab gw yang cerita, dia pendatang di desa tempat dia tinggal sekarang. Hari ini keuarga mereka mengadakan hajatan pernikahan anaknya. Bayangkan, mereka menghabiskan dana sekitar 50 juta mereka melibatkan angkatan muda desa itu untuk dilibatkan sebagai panitia, bayangkan setiap diadakan rapat panitia ngak ada satu orang pun yang datang membantu. Satu kali mungkin wajar, tapi setiap kali rapat panitia ngak ada satupun warga desa yang membantu, ngak satupuuuun….. Hingga akhirnya rapat panitia diadakan di rumah ketua RT tanpa warga desa????? (benar2 sadis!!!”

Kisah perih dan payah para pendatang ini lah mungkin yang akhirnya menstimulus developer2 perumahan untuk mengembangkan sayapnya di jogja. Dan kalo pembaca boleh tau ngak selamanya perumahan identik dengan konotasi negative! Justru masyarakat desa kita lah yang masih sangat piciiik dan kurang mengenal hakikat silaturahmi yang sebenarnya.