Abstrak

Membahas mengenai rokok maka secara otomatis kita tidak hanya berkutat kepada masalah agama saja, namun secara langsung akan terkait dengan: kesehatan, ekonomi, sosial dan lingkungan. Rokok akan lebih mudah difahami dengan pemahaman dan sudut pandang yang komperhensif dan menyeluruh. Tentu saja pembahasan mengenai rokok secara menyeluruh akan memakan waktu yang tidak singkat. Maka dalam makalah ini penulis akan mencoba melihat lebih luas tentang rokok dari kacamata agama dan ekonomi. Atas dasar apa PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram rokok?, sejauh mana fatwa tersebut bisa diterima oleh masyarakat?, apa dampak dari fatwa haram rokok kepada umat Islam?, bagaimana sebaiknya kita mensikapi rokok?, dan dimana posisi rokok dalam perekonomian Indonesia? Hal-hal tersebut akan dijelaskan dalam makalah ini.

A. Fatwa Haram Rokok PP Muhammadiyah.

Baru satu bulan yang lalu tepatnya pada selasa, 09 Maret 2010 Majelis Tarjih dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan sebuah fatwa kontroversial mengenai keharaman rokok dan hal yang terkait dengannya. Namun bisa kita lihat paska fatwa dikeluarkan, tidak ada issu dan berita yang menindak lanjuti, ataupun mengaplikasikan fatwa tersebut selain perdepatan yang tidak kunjung usai antara si prorokok dan si antirokok, issu bantuan lembaga asing yang membuahkan fatwa haram rokok tersebut, dan berita-berita mengenai derita buruh pabrik rokok yang merasa ketakutan akan terkena imbas dari fatwa haram rokok tersebut. Penulis belum mengetahui tindak lanjut positif atas fatwa haram rokok yang sudah terlanjur dikeluarkan baik dari kalangan umat Muhammadiyah pada khususnya dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Ada kesan yang dirasakan oleh penulis bahwasanya fatwa haram rokok tersebut hanya berlalu begitu saja, seolah-oleh fatwa tersebut tidak pernah ada.

Sebelum lebih dalam membahas mengenai fatwa keharaman rokok, hal yang perlu diperhatikan adalah hakikat dari fatwa itu sendiri, definisinya, hukumnya, dan aplikasinya menurut fiqh muammalah. Ibnu Mandzur mendefinisikan fatwa dalam bukunya:

أفتاه في لأمروأفتي الرجل في المسألة و أستفتيته فيهافأفتاني إفتاء وفتي

“Saya menjelaskan perkara tersebut kepadanya, dan seorang laki-laki menyampaikan fatwa pada suatu masalah, dan aku meminta fatwa kepadanya dalam masalah tersebut dan dia memberikan kepadaku sebuag fatwa”[1]

Abu Ma’bud mendefinisikan fatwa adalah:

أفتاه في المسألة أي أجابه

saya menyampaikan fatwa kepadanya dalam suatu masalah: maksudnya saya menjawabnya)…”[2]

Secara singkat kita bisa mendefinisikan fatwa sebagai: nasihat, petuah, jawaban, atau pendapat. Secara lengkap, yang dimaksud dengan fatwa adalah sebuah keputusan atau nasihat resmi yang diambil oleh sebuah lembaga atau perorangan yang diakui otoritasnya, disampaikan oleh seorang mufti atau ulama, sebagai tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa (mustafti) yang tidak mempunyai keterikatan. Sebuah jawaban, Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram tersebut bermula dari pertanyaan umat Muhammadiyah mengenai hokum syar’i dari rokok. Dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram rokok tersebut:

1. Resiko kesehatan atas dampak dari merokok

2. Kemubadziran ekonomis yang timbul akibat merokok

3. Pertimbangan majelis Tarjih yang menyatakan bahwa roko lebih banyak mengakibatkan dampat negatif daripada dampak positif.

Karna definisi fatwa kurang lebih sebagai jawaban atas permasalahan umat maka, sebuah fatwa tidak mempunyai hukum taklif yang mengikat mukallaf. Dengan kata lain tidak ada kewajiban bagi seorang muslim untuk tunduk dan patuh terhadao fatwa tersebut.


[1] Ibnu Mandzur, Lisaan al-arab, juz 15, hal 145

[2] Aun al-ma’bud, juz 1, hal 245